Terus Bertambah, Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia 105.859 Pasien, Meninggal Total 43.424 Orang

Trustmedia.id, Jakarta – Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia masih terus mengalami penambahan.

Menurut data yang dihimpun pemerintah pada Minggu (18/4/2021), terdapat 4.585 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 1.604.348 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Informasi ini disampaikan oleh pemerintah melalui data yang diterima wartawan pada Minggu sore.

Data juga bisa diakses publik melalui situs Covid19.go.id.

Meski kasus terus bertambah, pemerintah memperlihatkan harapan dengan bertambahnya pasien Covid-19 yang sembuh.

Dalam 24 jam terakhir, pasien Covid-19 yang sembuh mencapai 4.873 orang.

Dengan demikian, total pasien Covid-19 sembuh kini berjumlah 1.455.065 orang terhitung sejak awal pandemi.

Namun, pemerintah juga mengungkap adanya penambahan pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Pada periode 17-18 April 2021, ada penambahan 96 pasien Covid-19 yang tutup usia, sehingga angka kematian akibat penularan virus corona di Indonesia kini mencapai 43.424 orang.

Perubahan data itu menyebabkan kasus aktif Covid-19 kini tercatat ada 105.859 orang.

Kasus aktif adalah pasien Covid-19 yang masih terkonfirmasi positif, dan menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri.

Dalam periode yang sama, pemerintah juga memperlihatkan bahwa saat ini ada 61.694 orang yang masuk kategori suspek.

Embargo India

Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia masih terus berjalan.

Namun demikian, kapasitas vaksinasi beberapa waktu terakhir mengalami penurunan.

Di saat bersamaan, penambahan kasus virus corona masih terus terjadi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, sebelum bulan Ramadhan vaksinasi mampu mencapai 500 ribu suntikan per hari.

Kini, jumlahnya turun di angka 200-300 ribu suntikan.

“Kecepatan (vaksinasi) sudah 500 ribu per hari, puasa ini agak turun 200-300 ribu,” kata Budi, dalam diskusi daring yang ditayangkan YouTube PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Minggu.

Budi mengungkapkan, berkurangnya kapasitas vaksinasi di Tanah Air disebabkan karena gangguan suplai vaksin akibat embargo atau pembatasan pengiriman vaksin dari India ke berbagai negara.

Adapun kebijakan embargo ditempuh pemerintah India karena terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di negara tersebut.

Baca juga:  Giat khitanan Massal dan Donor Darah, Unit Kerja Srikandi AAL Buat Terobosan Di Awal Tahun 2022

Semula, dengan kerja sama yang dijalin Indonesia bersama sejumlah negara, pemerintah berasumsi akan mendapat 15 juta dosis vaksin per bulan selama Maret hingga April 2021.

Namun, dengan adanya gangguan suplai, jumlah vaksin yang diterima Indonesia selama April berkisar di angka 8-10 juta dosis.

Oleh sebab itu, pemerintah menurunkan kecepatan vaksinasi selama Ramadhan ini.

“Kita mesti mengurangi laju penyuntikan kita agar tidak ada hari yang bolong,” ujar Budi, dilansir Kompas.com.

Kendati demikian, Budi memastikan, pasca Ramadhan jumlah vaksin yang diterima pemerintah akan kembali naik.

Ia berharap pada Mei-Juni mendatang kapasitas vaksinasi bisa mencapai 750 ribu suntikan per hari.

“Dan sesudah Juli itu akan satu juta sampai 1,3 juta per hari karena memang pada saat itulah nanti jumlah vaksinnya akan datang lebih banyak,” katanya.

Terjadinya lonjakan kasus virus corona di berbagai belahan dunia menyebabkan vaksin Covid-19 semakin diperebutkan banyak negara.

“Kita ketahui bahwa vaksin ini rebutan di seluruh dunia, makin lama makin keras rebutannya,” katanya.

Budi pun mengaku bersyukur karena Indonesia sejak awal tidak hanya menjalin kerja sama pengadaan vaksin dengan satu perusahaan, melainkan empat.

Keempatnya yakni Sinovac dari China, AstraZeneca dari London, Novavax dari Amerika-Kanada, dan BioNTech Pfizer dari Jerman.

Dengan banyaknya kerja sama itu, kini Tanah Air masih punya persediaan vaksin yang cukup, meski banyak negara tengah berebut.

“Kenapa empat, ya maksudnya supaya kalau terjadi masalah dengan satu yang lainnya masih bisa kita terima dan itu yang kejadian sekarang juga,” ujar dia.

Budi mengatakan, buntut dari lonjakan kasus Covid-19 tidak hanya pembatasan ekspor vaksin di India, tetapi juga beberapa negara lain seperti Amerika dan Inggris.

“Akibatnya ini juga membuat ramai dan membuat tindakan balasan dari negara-negara di luar India, terutama yang menguasai bahan baku yang dipakai oleh vaksin-vaksin India. Jadi memang jadi agak complicated,” kata dia.

Adapun hingga saat ini vaksinasi Covid-19 sudah mencapai 16,5 juta suntikan. Pemerintah menargetkan pengadaan vaksin mencapai 426 juta dosis untuk 181,5 juta penduduk Indonesia.

Baca juga:  Ironis, Saat Mudik Dilarang, 171 WNA Asal Cina Masuk ke Indonesia via Bandara Soekarno-Hatta

Meski kapasitasnya menurun, vaksinasi Covid-19 dalam satu bulan ke depan akan diprioritaskan untuk kalangan lanjut usia atau lansia.

Hal ini karena selama bulan Ramadhan lansia berpotensi mendapat banyak kunjungan dari keluarga maupun tetangga dekat. Oleh karenanya, lansia lebih berpotensi tertular virus corona.

“Jadi tolong dipastikan dalam sebulan ini prioritas diberikan vaksinasi kepada para lansia. Sehingga mereka senior-senior kita ini bisa kita lindungi kalau nanti dikunjungi oleh keluarganya mereka sudah relatif imunitasnya lebih baik,” kata Budi.

Dia meminta para gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh daerah terus menjalankan program vaksinasi Covid-19 selama Ramadhan.

Apalagi, sebagaimana yang telah disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), vaksinasi tak membatalkan puasa.

“Jadi terus dijalankan,” ujarnya.

Budi juga mewanti-wanti seluruh pihak untuk tetap berhati-hati pada penyebaran Covid-19 sekalipun sudah divaksinasi.

Ia mengingatkan bahwa penularan virus corona masih terjadi hingga kini.

“Perlu saya ingatkan di sini bahwa jangan sampai program vaksinasi ini membuat kita tidak waspada, jangan sampai program vaksinasi ini membuat kita euforia,” kata Budi.

Saat ini sejumlah negara di dunia tengah menghadapi pandemi Covid-19 gelombang ketiga atau third wave.

Lonjakan itu terjadi di negara-negara Eropa, negara-negara Asia, khususnya India, Filipina, dan Papua Nugini dan negara-negara Amerika Selatan seperti Chili dan Brazil.

Oleh karenanya, Budi meminta masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mulai dari memakai masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak.

“Jangan sampai program vaksinasi yang sudah berjalan, program PPKM mikro yang sudah berjalan, yang sudah bisa menurunkan konfirmasi kasus Covid-19 selama ini membuat kita menjadi tidak waspada, membuat kita menjadi tidak hati-hati,” ujarnya.

Budi menyebut bahwa lonjakan kasus Covid-19 masih mungkin terjadi. Ia tak ingin capaian yang kini sudah berhasil diraih Indonesia menjadi sia-sia.

“Alangkah sedihnya kalau usaha keras kita selama ini jadi sia-sia karena lonjakan yang terjadi, sebab kita lupa, kita kurang waspada,” ujarnya. (*)

FOTO: Ilustrasi/Istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here