“Musok”: Prosesi Pernikahan Adat Lampung

“Musok”: Prosesi Pernikahan Adat Lampung

oleh : Prof Admi

CERITA keunikan adat dan budaya suatu daerah memang selalu menarik perhatian banyak orang. Beberapa hari terakhir saya menghadiri cukup banyak acara perkawinan, khususnya yang mengikuti tata cara adat Lampung. Salah satunya adalah ada acara ngunduh mantu dari keponakan tertua kami, dr. Hani dan Afif, SH di Bandar Lampung, kemarin.

Bagi orang Lampung, pernikahan merupakan momentum yang sangat penting. Perinkahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi menyatukan dua keluarga besar. Pernikahan juga bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga keluarga, kerabat, dan masyarakat adat. Sehinga, tidaklah mengherankan jika prosesi pernikahan di Lampung merupakan perayaan adat yang sakral dan meriah.

Salah satu tradisi dalam serangkaian prosesi perkawinan masyarakat Lampung pepadun yang sangat menarik adalah tradisi “musok”. Tradisi musok adalah pemberian suapan kepada pengantin, biasanya dilanjutkan dengan pemberian gelar inai dan adek dari keluarga. Biasanya tradisi musok dilaksanakan sesudah akad nikah, sebelum resepsi perkawinan.

Pada acara musok, biasanya disampaikan pesan-pesan melalu senandung. Salah satu pesan yang biasanya disenandungkan adalah:
Sorak euiiii, sorak eui
Bareng nyak sadar tano;
Kaklapah nyak jo bajei;
Lapah mak dapok balik lagei;
Tanggehku di metei kanan kiri;
Jemeh nyak ago jaweh;
Kawai mak di to jou lagei;
Sorak eui, sorak eui;

Acara Musok atau suapan dalam Adat Lampung memang sarat akan pesan dan makna yang disampaikan. Kesempatan musok pertama tentunya dilakukan oleh ibunda dari mempelai pengantin tercinta yang menggambarkan kasih sayang ibu sepanjang massa. Baru dilanjutkan oleh sanak keluarga tante, paman, kelamo, lebeu dll. Bagi masyarakat Lampung, keluarga sangatlah penting dan dihormati.

Prosesi dalam tradisi “Musok” diawali oleh pembacaan senandung, berisi nasihat dan filosafi dari makanan yang disajikan untuk kedua mempelai. Berbagai makanan yang biasanya diberikan terdiri dari nasi, ayam panggang/bakar, Telur Ayam rebus, Air putih (air zam-zam), Kopi pahit dan Kopi manis, serta Gula kelapa. Makanan ini tentu saja masing-masing memiliki makna.

Nasi misalnya, merupakan makanan pokok sumber energi yang dibutuh oleh semua orang. Dengan demikian diharapkan pengantin akan disukai oleh banyak orang. Ayam memiliki filosafi yang sangat tinggi.

Ia pergi di pagi hari mencari makan dan kembali pulang di malam hari untuk berkumpul bersama keluarga. Diharapkan pengantin (khusunya pengantin pria) adapa mencontoh ayam yang giat mencari nafkah buat keluarga dan kembali malam hari berkumpul bersama.

Gula kelapa merupakan misalnya menyiratkan bahwa dalam menempuh kehidupan mahligai rumah tangga, hendaknya memang berpahit-pahit dahulu dan bersenang kemudian. Demikian juga untuk makanan-makanan lainnya.

Gula tentu saja makanan yang sangat disukai oles semua orang. Kenapa Gula kelapa ? Gula kelapa adalah gula yang dihasilkan dari pohon kelapa, yang mulai dari akar hingga daunnya bermanfaat buat manusia. Pohon kelapa juga merupakan pohon yang menjulang tinggi ke ata. Diharapkan keluarga ini kelak akan sukses dan menjulang tinggi seperti pohon kelapa.

Kopi pahit dan Kopi manis menggambarkan bahwa kehidupan rumah tangga yang akan dijalankan kelak tidak akan selalu manis, Kalau ada kepahitan tetaplah harus ditelan. Inshaallah semua kepahitan akan dilancarkan dengan air putih (Air Zam Zam).

Acara musok juga merupakan simbol bahwa keluarga besar melepas dengan Bahagia. Keluarga yang me-musok, menyuapi, tentunya juga tidak sembarangan. Pemberi suapan ini merupakan orang-orang yang berjasam bagi kedua mempelai serta memiliki kedekatan dengan kedua mempelai. Biasanya dipilih suami atau istri masih lengkap dan memiliki anak laki-laki dan perempuan, berpenghidupan yang mapandan bahagia. Hal ini menggantung harapan semoga kedua mempelai kelak hidupnya diberkahi keturunan yang lengkap dan dapat hidup seperti mereka yang menyuapi. (Red)