AGAMA  

Pentingnya Memilih Sahabat Atau Teman

Pentingnya Memilih Sahabat Atau Teman

Penulis. : Sabaruddin Daulay SE.SH.MH

Kata “sahabat” diambil dari bahasa Arab “sahiba” memiliki arti “menyertai”.

Dalam pepatah Arab menyebutkan :

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”. Agama Islam sangat memperhatikan dengan siapa kita berteman. Teman memiliki peranan yang begitu besar dalam menentukan masa depan dan perjalanan hidup. Betapa banyak orang yang beruntung menggapai rahmat Allah di dunia dan akhirat karena sahabat-sahabatnya yang tulus. Sebaliknya, betapa banyak orang yang sengsara dan celaka akibat dari pengaruh dan ulah sahabat buruknya. Dimana Allah menyebutkan penduduk neraka yang menyesal karena akibat temannya. Firman Allah :

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ﴿٢٨﴾ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ …

“Aduh, andaikan aku tidak menjadikan dia sebagai teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku setelah datangnya peringatan kepadaku…” (QS. Al-Furqon : 28-29). Perhatian dan kedudukan teman baik dalam Islam begitu tinggi, maka apa keuntungan memiliki sahabat baik?

1. Mempengaruhi ketakwaan.

Saling menasehati satu sama lain dalam kebaikan dan ibadah. Menolong teman untuk tidak menzalimi orang lain dan menolong teman dari kezaliman orang lain adalah dasar ketakwaan dalam berteman. Rasul bersabda :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ. رواه البخاري

“Tolonglah saudaramu yang berlaku zalim atau yang menzalimi. Sahabat berkata: Ya Rasulullah, kami menolong orang yang dizalimi, tetapi bagaimana kami menolong orang yang zalim. Rasullullah menjawab: Halangilah kezaliman yang dilakukan oleh mereka.” (H.R. Al-Bukhari).

2. Teman itu cerminan diri

Jika teman itu baik maka itulah dirimu. Jika temanmu orang orang saleh, maka jiwamu akan tergambar kesalehan pula.

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

“Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin” (HR al-Bukhari).

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” (HR At-Tirmizi).

3. Menjadi pembela dihari akhir.

Persahabatan yang diinginkan dalam Islam ialah persahabatan yang kekal dunia akherat. Rasul bersabda ;

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnul Jauzi berkata kepada sahabat-sahabatnya,

إن لم تجدوني في الجنة بينكم فاسألوا عني وقولوا : يا ربنا عبدك فلان كان يذكرنا بك

”Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Imam Hasan Al Bashri mengatakan :

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat”. Rasul bersabda tentang syafaat di Hari Kiamat:

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

” Setelah orang-orang Mukmin itu dibebaskan dari Neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak saudara-saudaranya yang berada di dalam Neraka pada Hari Kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di Neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Dijawab: ”Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api Neraka. Para Mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di Neraka. Ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang Mukmin itu lapor kepada Allah: ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari Neraka sudah tidak tersisa.” Allah berfirman: ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat Dinar.” Maka dikeluarkanlah orang Mukmin banyak sekali yang disiksa di Neraka. Kemudian mereka melapor: ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan ” (HR. Muslim)

4. Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat.

Rasul bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِى الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّى يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّى (رَوْاهُ مُسَلَّمَ)

“Sesungguhnya Allah, kelak pada hari kiamat berfirman, Dimanakah orang-orang yang saling mencintai berdasarkan keagungan-Ku. Pada hari ini Aku menaungi mereka di bawah naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Muslim).

5. Membantu dalam Kebaikan.

Menjadi baik atau kita akan memperoleh kebaikan yang dilakukan teman yang baik. Sebaliknya bergaul dengan teman yang jahat mempunyai pengaruh kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukannya. Rasul bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ialah ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim). Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ” Hadits ini mengandung anjuran agar seseorang berteman dengan orang yang akan bermanfaat bagi agama dan dunianya dan larangan berteman dengan seseorang yang akan merusak agama dan dunia.

Ibnu ‘Atha’illah berkata:

لَاتَصْحَبْ مَنْ لَا يَنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ, رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيْئًا فَأَرَاكَ اْلاِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ مَنْ هُوَ اَسْوَأُ حَالًا مِنْكَ

“Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat ibadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah Swt. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari kalian sendiri.”

Semoga bermanfaat.