Kajian Qultum oleh ustad nursalim Islam itu Agama Tangisan

Kajian Qultum oleh ustad nursalim Islam itu Agama Tangisan

Kajian Qultum oleh ustad nursalim Islam itu Agama Tangisan

Lampung selatan trust media.id

Islam itu agama tangisan. Lahir dari air mata dan dipertahankan dengan darah. Islam bukan agama gelak tawa dan bukan dipertahankan dengan hura-hura. Liat Muhammad, sang Nabi. Puncak tawanya hanya berupa senyum dengan tubuh yang bergetar. Tapi mengapa kau dakwahkan Islam ini dengan tertawa lebar seolah yakin besok sudah pasti masuk surga?

Lihatlah Ali, pemegang panji kebenaran. Malam-malamnya basah oleh air mata rindu kepada Tuhan. Siang harinya penuh luka karena menegakkan keadilan. Saat orang tertidur lelap, ia bermunajat. Saat orang sibuk tertawa, ia memikirkan umat.

Lihatlah Zahra, putri Nabi. Air matanya tak pernah kering sejak kepergian ayahnya. Ia tidak tertawa, karena luka di hatinya lebih dalam dari samudera. Satu-satu senyum yang dia punya, saat tahu, keterpisahan dengan ayahnya tidak lama. Dia sudah menyusul hanya beberapa bulan dengan membawa sakit hati yang tak tertahan.

Lihatlah Husain, cucu Nabi. Ia menangis dalam sujudnya, merintih dalam doanya. Namun di Karbala, air mata itu berubah menjadi darah. Islam yang kau nikmati hari ini bukan diwarisi dari pesta dan tepuk tangan, tapi dari kepala-kepala suci yang dipenggal, dari tubuh-tubuh yang diinjak-injak, dari tangisan para ibu dan anak-anak yang kehilangan.

Jadi, dengan apa kau dakwahkan Islam ini? Dengan senda gurau yang kosong? Dengan tawa yang membutakan? Seolah-olah surga itu semudah mengangkat tangan dan mengucap “amin.” Seolah-olah semua sudah bisa selesai dengan massa yang banyak.

Islam bukan agama yang menjanjikan kenyamanan di dunia. Islam adalah jalan pedih menuju ridha Tuhan. Jika air matamu tak pernah jatuh karena takut kepada-Nya, jika hatimu tak pernah remuk karena menanggung beban umat, maka tanyakan pada dirimu: Islam seperti apa yang kau bawa?

Untuk apa log-in log-in itu, kalau yang kau tawarkan dari Islam ini adalah baunya, bukan baranya. (Red/*)