SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI ERA KOLONISASI DI KOTA METRO

SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI ERA KOLONISASI DI KOTA METRO

SEJARAH PERKEMBANGAN EKONOMI ERA KOLONISASI DI KOTA METRO

Oleh :
Rizki Herdiyanti, S.Pd.
Guru IPS SMP IT Wahdatul Ummah Kota Metro

Metro trust media.id

Sistem ekonomi secara sederhana dapat diartikan sebagai cara suatu masyarakat mengatur kehidupan ekonominya untuk mencapai kemakmuran. Dilihat dari sejarahnya kota metro dari masa ke masa juga turut mengalami perubahan dalam sistem mata pencaharian masyarakatnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan orientasi pembangunan serta iklim politik yang diciptakan pemerintah. Kota Metro yang sekarang kita lihat sudah sangat ramai dengan berbagai macam bagunan-bangunan seperti ruko, kedai, restoran, minimarket, dan pasar tradisional. Bahkan beberapa tahun yang lalu kita juga bisa melihat lahan pertanian yang masih cukup luas di beberapa wilayah seperti metro timur, selatan, barat, dan utara kini semakin berkurang karena maraknya pendirian perumahan untuk bisnis KPR. Hal ini membuktikan perkembangan sistem ekonomi masyarakat kota Metro menjadi semakin modern sesuai dengan pengertian perkotaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang ialah wilayah yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian. Sangat berbeda jika kita lihat masa lalu dari awal mula berdirinya kota ini. Berikut uraiannya dari beberapa bukti sejarah yang saya telaah tentang sejarah perkembangan sistem ekonomi masyarakat di kota Metro.

Dimulai dari berdirinya kota Metro yang kemungkinan besar terjadi pada 9 Juni 1937. Saat itu sistem ekonomi masyarakat di kota metro masih bertumpu pada sektor pertanian. Hal ini tentu tidak lepas dari pengaruh sistem pemerintahan Indonesia yang saat itu dikuasai oleh para pemerintah Hindia Belanda dengan kebijakan politik etis.

Kebijakan Politik Etis mengarah pada ujicoba proyek-proyek pertanian dan pemerataan penduduk melalui program kolonisasi 1905 dengan beragam sumber biaya diantaranya ditanggung pemerintah, sistem pinjam dan sistem bawon. Kolonisasi adalah suatu kebijakan politik kolonial Hindia Belanda untuk memindahkan pemukiman penduduk miskin dari daerah padat penduduk di Jawa ke daerah jarang penduduk di luar jawa dalam bentuk desa-desa pertanian baru yang dikelola dan dibiayai oleh Hindia Belanda. Secara prinsip program ini digunakan untuk mencetak petani-petani baru di luar Jawa sehingga muncul produksi pertanian yang awalnya bertumpu hanya di daerah Jawa diperkirakan akan merata di seluruh Hindia Belanda khususnya di tempat-tempat kolonisasi.

Gambar 1.

Rombongan kolonis Jawa menuju koloni pertanian Metro di Distrik Lampung tiba, setelah turun dari kapal api Van Rieebeck milik KPM di Pelabuhan Panjang, Teluk Betung. Sumber KITLV Leiden, Belanda Nomor Arsip : 53607, Jan van der Kolk

Para kolonis inilah yang menjadi cikal bakal penduduk kota Metro kemudiaan mereka diangkut menggunakan bus sewaan dari pengusaha Cina dan milik pemerintah kolonial Belanda dari pelabuhan Panjang melewati Gunung Sugih dan tiba di Sukadana untuk menuju tanah harapan baru yaitu desa induk dengan Trimurjo yang kemudian menjadi kota Metro. Setelah kedatangannya di tanah harapan baru pemerintah kolonial memperluas wilayah pertanian oleh karena itu jaringan irigasi juga diperluas.

Para kolonis ini mendapatkan segala kebutuhannya, seperti tempat tinggal sementara yang disebut bedeng, alat pertanian, alat rumah tangga, bibit, bahkan tanah pekarangan dan juga persawahan dengan luas masing –masing 0,19 hektar. Biaya hidup selama 2 tahun dan biaya pembuatan rumah juga diberikan. Semua bantuan yang diterima para kolonis diberikan pemerintah dengan cuma-cuma.

Mata pencarian utama para kolonis untuk penghidupannya yaitu bertani dan berternak , Selain menanam padi para kolonis juga menanam tanaman palawija seperti jagung, umbi-umbian, maupun kacang. Adapun tambahan penghasilan yang didapat dari upah memburuh pada penduduk asli. Para kolonis juga mendapatkan pekerjaan khusus dari pemerintah Hindia Belanda yaitu membuat jalan dan saluran air atau irigasi. Pendidikan untuk anak-anak kolonis juga diberikan melalui pendirian sekolah rakyat di desa-desa yang diawasi oleh seorang inspektur. Di sekolah murid-murid memperoleh pelajaran-pelajaran umum dan pelajaran bercocok tanam.

Gambar 2 dan 3.

Para kolonis juga mendapatkan pekerjaan khusus dari pemerintah Hindia Belanda yaitu membuat jalan dan saluran air atau irigasi Sumber KITLV Leiden, Belanda Nomor Arsip : 53674 dan 53706, Jan van der Kolk

Setelah lima tahun pertanian berkembang semakin pesat. Di mana-mana di sepanjang jalan pria, wanita, juga anak-anak membawa muatan padi. Pedagang beras produk besar mulai hadir dan mendirikan pabrik penggilingan padi. Selain itu masyarakat juga mulai mengembangkan mata pencaharian baru sebagai penjahit baju (produksi), pedagang baju, daging sapi, sembako, dan warung makan. Terlihat juga sebuah toko besar milik pedagang cina dan pom bensin mini. Aktivitas mereka berpusat di suatu tempat yang berdiri plang bertuliskan “pasar baroe”

Gambar 4.

Pasar Baroe sebagai pusat aktivitas perdagangan masyarakat kota metro masa lalu.

Gambar 5.

Toko Baroe Tjiho Milik pedagang cina. sumber : KITLV

Demikianlah gambaran sejarah perkembangan sistem ekonomi masyarakat Kota Metro. Hingga saat ini lahan pertanian, irigasi, dan jalan sebagai warisan kolonisasi masih terus kita rasakan manfaatnya. Pusat perekonomian dan pemerintahan juga semakin terbentuk sesuai dengan rancangannya sebagai ibukota koloniasasi. Kini aktivitas sebagian besar masyarakat bukan lagi di sektor pertanian namun sudah beralih ke sistem perokonomian yang mengarah pada sektor industri dan jasa. Wilayah ini terus berkembang mungkin hingga kelak akan benar-benar menjadi kota metropolitan. Bahkan tidak hanya masyarakat kota Metro melainkan masyarakat dari kawasan sekitarnya yaitu Lampung Tengah dan Lampung Timur juga banyak yang menjadi komuter karena mata pencahariannya berpusat di kota ini.

DAFTAR PUSTAKA
Kuswono,dkk. 2020. Metro Tempo Dulu. Lampung : CV. Laduny