TANDA-TANDA PENGIKUT SYAITAN
Oleh :
Muhamad Zundi Pratama, S.H
Pondok Pesantren Kanza Al-Amin
Telah berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, “Apabila ada pada diri seseorang nampak kecenderungan kepada hal-hal yang najis dan kotoran yang disukai syaitan, atau suka ke tempat-tempat kotor dan menjijikkan yang syaitan suka menempatinya, atau suka memakan ular, kalajengking, atau sebangsanya, dan bersuara seperti anjing yang jelek dan buruk, atau suka meminum air kencing dan semisalnya dari najis-najis yang disukai syaitan,
atau menyeru kepada selain Allah SWT, kemudian melakukan tipu daya dan menyesatkan manusia dengan perantaraan makhluk-makhluk, atau bersujud kepada gurunya, dan tidak memurnikan ketaatan dalam ber-dien (beragama), atau berprilaku bringas seperti anjing yang ganas, atau menyukai tinggal di tempat yang kotor dan najis, atau suka menempati kuburan kuburan, meski di kuburan-kuburan orang-orang kafir dari kalangan yahudi, nasrani atau orang-orang musyrik, atau orang yang membenci mendengarkan ayat-ayat al-qur’an dan lari dari padanya (jika dibacakan al-quran), lalu lebih menyukai dan gandrung mendengar nyanyian-nyanyian dan syair-syair yang melalaikan, dan lebih cenderung kepada seruling (seruan-seruan) syaitan daripada mendengar kalamullah (al-qur’an). maka hal ini semua adalah tanda-tanda waliyusyaitan (pengikut) syaitan yang tidak nampak disarna tanda-tanda waliyurahman (pengikut Allah SWT). (Al-Furqan, Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq oleh Abu Amru Al-Atsary hal. 72 Cet. Dar Ibnu Rajab).
Seseorang yang shahih (lurus) aqidahnya tentu ia akan sangat dekat dan mencintai alqur’an. la akan membacanya dalam keadaan berwudhu, senantiasa mentaddaburi maknamaknanya dan mengkaji tafsirannya, dan berusaha menghafalkan dan mengajarkannya. Maka hal ini menunjukkan ia termasuk orang-orang yang mencintai allah dan rasul-Nya.
Tetapi sebaliknya manakala seseorang tidak mencintai Al-Qur’an, membencinya, malas membaca dan mempelajarinya, dan bahkan membenci jika dibacakan al-quran, maka berhati-hatilah bisa jadi orang tersebut telah masuk (tanpa sadar) ke dalam golongan syaitan. Karena dengan demikian hakekatnya Ia membenci Allah SWT dan Rasul-Nya.
Telah berkata Ibnu Abbas –Radiyallahu Anhu- : “Tidaklah ada sesuatu pun yang dikerjakan oleh seseorang kecuali ia kembali (merujuk) kepada al-qur’an, maka i ia dikatakan sebagai orang yang mencintai al-quran, dan hal ini berarti ia mencintai allah SWT. dan apabila seseorang membenci al-quran, maka hal Ini berarti ia telah membenci Allah dan Rasul-Nya.”
Dan telah berkata Utsman Bin Affan -Radiyallahu anhu- : “Kalaulah hati-hati kita bersih (bening) niscaya tidak akan pernah merasa kenyang (bosan) dari Kalamullah Azza wa jalla” (Khabar Shahih, Diriwayatkan oleh Ahmad No. 159, dalam Az-zuhud Imam Ibnu Mubarak 1133).
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata,”Apabila seseorang telah memahami hakekat iman yang sebenarnya, maka ia akan dapat membedakan keadaan (halihwal) yang rahmaniyah maupun yang syaithaniyyah. Maka sungguh Allah SWT benar-benar akan menancapkan kedalam hatinya berupa cahaya-Nya, Sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah Kepada RasulNya (Muhammad), niscaya Allah SWT Akan memberikan Rahmat-Nya Kepadamıu dua bagian, dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Allah SWT akan mengampuni kamu, dan sesungguhnya Allah SWT Maha pengampun lagi maha penyayang.”(QS. Al-Hadid 28). (A1-Furqan, Imam Ibnu Taimiyyah, 73. Cet. Daru Ibnu Rajab).
Dan Allah Berfirman :
“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruhan (ALQur’an) dengan perintah kami. Sebelumya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (AlQur’an) dan apakah iman itu, tetațpi kami jadikan Al-Quran itu cahaya, denganbenar-benar membimbing (manusia) kepada bertindak adalah tangan-Ku, darn kaki yang Ia gunakan untuk berjalan adalah kaki-Ku, Jalan yang lherus.” (QS. Ash-Syura.52).
Imam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan bahwa, “Hal ini (ayat ini) ditujukan kepada orang-orang mukmin yang telah datang kepada mereka sebuah hadits yang telah diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abi Said Al-Khudry dariNabi, beliau bersabda : “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin, sesungguhnya Ia melihat dengan cahaya Allah. Telah berkata Imam Turmudzi ; “Hadits ini hasan”. (Turmudzi 3127, Abu Nu’aim dalam Al-Hulyah 4/94, 6/118, dan Tabrani 8/121).
Maka apabila seseorang benar-benar lepas dan terhindar dari menjadi pengikut Syaitan dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang diberi cahaya (Al-qur’an) oleh Allah SWT dengan kehendak-Nya, maka sungguh ia adalah orang-orang yang selamat dan beruntung di dunia dan akherat. Segala gerak-geriknya dalam beraktifitas, niscaya dalam bimbingan danpetunjuk Allah SWT yang Maha agung. Mata, telinga, lidah dan seluruh anggota tubuhnya akan senantiasa “’dipandu’ oleh Allah SWT, sungguh suatu kenikmatan yang tak terkirakan.
subhanallah! di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhary dan selainnya, Dari Abi Hurairah Radiyallu anhu, dari Nabi SAW beliau bersabda : “Hambaku akan senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan ibadah-badah yang nawafil (sunnah) hingga aku mencintainya, sehingga apabila aku telah mencintainya, maka jadilah pendengaran yang ia gunakan adalah pendengaran-Ku, dan penglihatan yang ia gunakan adalah pengelihatan-Ku,dan tangan yang ia gunakan untuk bertindak adalah tangan-Ku, dan kaki yang ia gunakan untuk berjalan adalah kaki-Ku, Maka dengan-Kulah ia mendengar, Dengan-Kulah ia melihat, dengan-Kulabh ia Memegang, dan dengan-Kulah ia berjalan, dan apabila ia meminta kepadaku, maka sungguh aku akan mengabulkan permintaannya, dan apabila ia minta pertolongan kepadaku, maka sungguh aku akan memberikan pertolongan kepadanya.” (Hadits shahih diriwayatkan Oleh Bukhary 6502, Tabrani 12/146, Al- Baihaqy 3/346, 10/2 19, AlBaghawy dalam Sarhus Sunnah 5/19).
Wal hasil, mudah-mudahkan kita termasuk orang-orang yang diberi cahaya sebagaimana cahaya yang Allah SWTberikan kepada hamba-hambanya yang shalih lagi pilihan.
Wallahu ta’ala alam bisshawwab
Referensi :
ALQur’an ALKarim, ALFurqan, Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq oleh Abu Amru AlAtsary hal.72 Cet. Dar Ibnu Rajab. Turmudzi 3127, Abu Nu’aim dalam ALHulyah 4/94, 6/118, dan Tabrani 8/121. Bukhary 6502, Tabrani 12/146, AlBaihaqy 3/346, 10/2 19, Al-Baghowy dalam Sarhus Sunnah 5/19. (Red)












