Pertukaran Budaya, Siswa SMK Percik Jakarta Utara Lukis Shufa Seni Kaligrafi China Ajarkan Ketenangan

Pertukaran Budaya, Siswa SMK Percik Jakarta Utara Lukis Shufa Seni Kaligrafi China Ajarkan Ketenangan

Jakarta, Trustmedia.id– Hari ini pusat bahasa Mandarin Universitas Al-Azhar Indonesia melaksanakan kegiatan pertukaran budaya dalam rangka pengenalan bahasa Mandarin di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Perguruan Cikini Jakarta Utara. Siswa-siswi melukis Shufa Seni Kaligrafi China atau Tiongkok. Senin (24/10/22).

“Dari berbagai kertas yang disediakan, semuanya harus berisi harapan positif. Mulai dari harapan umur panjang, hidup sukses, menjadi pribadi yang optimistis,” kata Widi penerjemah bahasa Mandarin yang mendapampingi siswa.

Widi mengatakan, seseorang yang membuat kaligrafi Tiongkok harus duduk dengan tegap. “Harus tegap dan tidak boleh duduk seenaknya,” kata dia.

“Saat memulai menggoreskan tinta, kuas tinta juga hanya digoreskan sekali. “Tidak boleh diulang karena hasilnya jadi tidak baik,” lanjut dia.

Ia mengatakan, unsur ketenangan sangat diperlukan dalam membuat kaligrafi Tiongkok. Proses pembuatannya selayaknya melakukan meditasi sehingga harus duduk tenang dan tidak banyak tingkah.

“Kegiatan bertujuan supaya siswa SMK Percik mengetahui budaya bangsa lain khususnya China atau Republik Rakyat Tiongkok, memahami dan menghormati budaya satu sama lain. Dan bisa belajar bahasa Mandarin dari dari orang Tiongkok langsung,” kata Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum Sugeng Ependi.

Sugeng mengatakan, kelas yang diikutsertakan dalam kegiatan tersebut adalah 10 Teknik Komputer Jaringan, 10 Desain Komunikasi Visual dan 10 Rekayasa Perangkat Lunak.

Sedangkan mentor pertukaran budaya dari Universitas Al-Azhar Indonesia Feri Ansori menuturkan, kegiatan dalam rangka pengenalan bahasa mandarin diantaranya melukis topeng china, Shufa atau seni kaligrafi China, seni bela diri Tai Chi atau Taijiquan, Seni jianzhi atau menggunting kertas.

“Kalo di Indonesia seperti di Bali, Cirebon ada seni topeng digunakan menari dan memiliki karakter. Mimik wajahnya sangat expresif. Topeng Tiongkok atau China juga sama,” tuturnya.

Feri menambahkan, yang paling di kenal dari tiongkok adalah chenes food, Kesenian tradisional Barongsai saat perayaaan tahun baru atau hari-hari yang membahagiakan.

“Di China sudah sangat maju dalam teknologi, inovasi teknologi, semua transaksi penjualan tidak ada yang dibayarkan cash, semua menggunakan scan barcode. Pembayaran makanan bisa menggunakan scanner wajah. Bisa untuk biaya semuanya,” imbuhnya.

Nurul (16) mengungkapkan, sangat senang bisa mengikuti kegiatan pertukaran budaya China. “Sebelum melukis topeng Tiongkok terlebih dahulu membuat sketsanya menggunakan pensil, kemudian baru di warnai menggunakan cat air, satu topeng dikerjakan 1-3 siswa,” tuturnya.

Wakil Kepala sekolah bagian hubinmas BKK Edi Susanto menjelaskan, bahasa mandarin cukup penting di dunia seni dan dunia kerja.

“Kedepannya saya akan menjalin kerjasama untuk pembekalan siswa-siswi SMK Percik dalam bahasa Mandarin selain itu budaya Jepang, Korea, Jerman, Inggris,” tutupnya. (Red/Samsudin)